Cebu dan Laut Biru

Kompas.com - 13/12/2012, 16:10 WIB

BELUM lengkap ke Filipina apabila belum ke Cebu (dibaca: sebu, dengan ucapan huruf e lemah, seperti kata: tebu). Itu kata banyak orang di Manila kepada para pendatang atau wisatawan. Pernyataan itu mungkin mirip ucapan orang Indonesia kepada wisatawannya bahwa belum lengkap ke Indonesia apabila belum ke Bali. Tentunya penasaran juga, apa benar seperti itu.

Setelah terbang sekitar 1 jam 15 menit dari Bandara Ninoy Aquino di Manila, akhirnya kami mendarat di Bandara Cebu, Pulau Maktan. Bandaranya tidak besar, tetapi tidak juga terlalu kecil. Penampakannya biasa saja, tidak terlalu megah, bahkan kesannya sudah mulai tua untuk ukuran zaman. Bandara Juanda di Surabaya, Jawa Timur, rasanya masih lebih bagus.

Namun, bandara itu merupakan bandara terpadat kedua di Filipina setelah Manila. Dari bandara tersebut, terdapat rute langsung menuju Busan dan Incheon di Korea Selatan, Hongkong, Osaka di Jepang, Guangzhou di China, Singapura, Bangkok, Hanoi di Vietnam, dan kota-kota besar lain di Asia.

Bahkan, bulan Maret mendatang, Cebu Pacifik Air, pelopor penerbangan murah di Filipina, akan membuka penerbangan dari Cebu langsung menuju Bali dan Jakarta. Ada keinginan kuat Dinas Pariwisata Cebu untuk mendatangkan wisatawan dari Indonesia ke Cebu. Sebaliknya, Bali dianggap sebagai tujuan wisata bagi warga Cebu yang dikenal sebagai kota industri dan perdagangan terpenting di Filipina.

Pantai-pantai di Pulau Maktan memiliki pemandangan cantik karena berada di pinggiran samudra dengan air berwarna biru. Keindahan pantai dan laut itu adalah kekuatan utama pariwisata Cebu.

Kota Cebu dan Pulau Maktan hanya dipisahkan oleh selat kecil, yang lebih tepat disebut sebagai sungai besar, dan sudah bersatu dengan jembatan.

Menurut Raymond B Fernandez, pemandu wisata di Cebu, tidak kurang dari 35.000 wisatawan asal Korea Selatan datang ke Cebu setiap bulan. Penerbangan dari Korea Selatan ke Cebu hanya ditempuh selama 3,5 jam.

Kedatangan wisatawan itu memang bersimbiosis dengan masuknya investasi Korea Selatan dalam industri wisata di Pulau Maktan. Tidak tanggung-tanggung, pengusaha Korea, misalnya, membangun hotel dan vila Imperial Palace yang memiliki 556 kamar mewah. Lokasi Imperial Palace tepat berada di pinggir laut yang memiliki pemandangan sangat indah. Penghuninya kebanyakan warga Korea. Tidak heran, ke mana pun mata memandang di area hotel, selalu bertemu dengan wisatawan Korea.

Hotel-hotel besar dan kecil tumbuh di sepanjang pantai. Yang tidak kalah besar dari Imperial Palace adalah Shangri-La Hotel and Spa serta hotel yang lebih kecil Bluewater Hotel. Tarif Bluewater mencapai Rp 2 juta per malam. Adapun Shangri-La atau Imperial Palace bisa dua kali lipat lebih mahal.

Apabila bosan di Maktan, tidak ada salahnya bermain ke kota Cebu yang dapat ditempuh dengan perjalanan darat sekitar 45 menit. Jika jam padat, kendaraan terpaksa bergerak lebih lambat dan merayap.

Maklum, Cebu adalah kota industri paling maju di Filipina dan sekaligus kota pelabuhan terbesar negara itu. Industri teknologi informasi dan industri mebel adalah motor industri terbesar kota tersebut. Sama seperti Indonesia, pengusaha China-Manila, meski minoritas, memegang peranan penting ekonomi Cebu.

Sebagai pusat industri, kota Cebu terbilang semrawut dan kurang tertata, terutama daerah pinggiran kotanya. Kabel-kabel listrik terpasang kusut di tiang pinggir jalan sehingga mengganggu pemandangan mata. Kekumuhan juga terasa karena hampir tidak ada jarak antara jalan dan rumah penduduk.

Di kota Cebu terdapat berbagai hotel bagus, seperti Marcopolo dan Crown Regency. Kota yang dikelilingi bukit dan gunung ini cukup indah pada malam hari apabila dipandang dari puncak Crown Regency yang menjulang tinggi ke angkasa. Hotel ini boleh dikatakan sebagai pusat hiburan malam kota Cebu. Berbagai jenis permainan dan olahraga ada di tempat ini, bahkan permainan ekstrem berjalan di tangga langit, sky walk, di puncak bangunan berlantai 45.

Pada Minggu ketiga setiap bulan Januari, jalanan di depan Crown Regency, Osmena Bulevar, akan ditutupi lautan manusia dalam festival sinolog. Pada festival tari jalanan (dancing in the street) ini, lebih dari sejuta orang akan tumpah ruah di jalanan. Dansa itu berhadiah besar, senilai total 1 miliar peso atau sekitar Rp 250 miliar.

Festival sinolog adalah perayaan persahabatan mengenang kedatangan pertama bangsa Eropa ke Filipina di Cebu dalam ekspedisi dagang kerajaan Spanyol yang dipimpin oleh penjelajah asal Portugis, Ferdinand Magellan, tahun 1521. Magellan-lah yang pertama kali mengenalkan agama Katolik di Cebu dengan membaptis raja lokal, Humabon, dan istrinya dengan memberi nama baru, yakni Carlos dan Juana.

Magellan membuat cikal bakal gereja Katolik di tengah kota Cebu yang sampai sekarang masih berdiri. Magellan justru tewas akibat terluka parah dalam sebuah pertempuran melawan raja lain di Pulau Maktan. Kisah perjalanan Magellan dan sejarah Cebu tergambar dalam monumen kota. (SAH)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau